Social Items

Kerinci, Ahad 20/10/19
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kabupaten Kerinci menggelar Silaturrahim Lintas Generasi  IMMawati se-kerinci (kader perempuan IMM) di Aula kantor bupati kabupaten kerinci dihadiri oleh seluruh IMMawati kerinci, beberapa Senior IMMawati yang lainnya dan juga hadir Ketua bidang IMMawati DPD jambi Ewia Putri.

Kegiatan yang dimotori oleh Pimpinan Cabang Bidang IMMawati Kerinci ( PC IMM kerinci) tersebut mendapat antusias yang tinggi dari peserta dan berbagai pandangan serta harapan dalam keberlangsungan IMMawati.

"IMMawati hari ini sudah saatnya untuk berperan di segala lini dan berbagai lintas kegiatan, immawati harus mampu menjadi pelopor yang terdepan untuk setiap pergerakan kebaikan" tegas ewia putri (kabid IMMawati DPD IMM jambi)

Lebih lanjut ewia mengatakan, dalam perkembangan zaman perempuan saat ini sudah saatnya untuk unjuk gigi dan mengambil peran masing-masing untuk kemanusiaan. IMMawati terkhususnya harus sebagai pelopor bukan lagi sebagai Followers yang asal angguk-angguk saja.

“Ada beberapa hal yang ditegaskan korps IMMawati Jambi yaitu :
1. Immawati harus berperan dalam segala lini apapun
2. immawati harus pro aktif menyuarakan hak2 perempuan
3. Immawati harus menjadi garda terdepan untuk pergerakan perempuan

Tetkait dengang kekerasan seksual yang hari ini marak terjadi di jambi maupun di daerah-daerah yang harus kita suarakan dan ditindaklanjuti oleh pihak-pihak terkait seperti pemerintah, LSM Perempuan dan organisasi perempuan lainnya serta disisi lain sebagai Generasi pelopor perempuan, IMMawati juga dituntut untuk pro Aktif dalam menyuarakan Isu Perempuan baik itu dituangkan lewat gagasan ataupun Gerakan".

Besar harapan dengan adanya Seminar hari ini mampu melahirkan gagasan-gagasan ataupun Gerakan yang berani dari IMMawati serta mampu menuang perkaderan yang terstruktur dan terstandarisasi serta grand design yang jelas. #IO

Hadiri silatbar IMMawati Kerinci Korps IMMawati Jambi tegaskan beberapa poin yang harus dilakukan IMMawati se-provinsi Jambi



Sepenggal kisah kasih yang terawat dalam doa,
harap akan ada akhir yang bermula pada kalimat Basmalah, Asa dan rasa "S"aksi atas tatap
yang menyimpan jutaan perkara,
tepat di langit sekepal tanah dari surga
tepian jalan ahmad yani,
Pada keramaian yang bising
aku sunyi menatap mu

Puan berkerudung hitam di keramaian
Empat puluh delapan purnama berlalu
Demi asa yang tertata dalam sembah dan pinta
Kutiduri liar tatap ku, hanya untuk merawat kau
Agar terjaga dalam kata kita

menua dan tersesatlah di puisi ku
Maknai setiap syair yang kau baca
Separuh nya boleh kau ambil sebagai doa
Perihal kata yang tak kau baca
Biar abadi dalam kata pisah yang berujung kisah


Hamparan rawang , 02 oktober 2019

PENULIS : Friqwal

PUAN BERKERUDUNG HITAM DI KERAMAIAN


Randi yang meregang nyawa saat mengikuti aksi demonstrasi di Kendari Sulawesi Tenggara pada 26 September 2019 yang menjadi trending di Twitter, dengan sekejap menjalar informasi keseluruh tanah air, Randi yang juga kader IMM Kendari merupakan bagian tak terpisahkan dari organisasi Persyarikatan Muhammadiyah. 

Melihat tindakan represif oleh (oknum) kepolisian yang mengeluarkan tembakan kepada demonstran adalah tindakan yang brutal dan tuna keadaban demokrasi, manusia macam apa yang tega menghilangkan nyawa seorang mahasiswa. Dengan segenap duka demokrasi, kita prihatin terhadap aparat yang melakukan tindakan brutal. 

Randi adalah sebagian yang menggambarkan keseluruhan penjuru bahwa demokrasi telah gagal dipahami dalam ruang nafas keindonesiaan, randi telah menoreh simbol sejarah perjuangan mahasiswa yang menuntut keadilan ditegakkan, randi menjadi nama yang akan ditulis dalam batu nisan sejarah sebagi tragedi demokrasi. 

Seolah demokrasi mati, karena (oknum) polisi yang tuna demokrasi, padahal demokrasi juga dibangun dijalanan, karena dijalanan autentik keadilan diperjuangkan, dijalanan tapak kaki demonstran dilukiskan, tetesan keringan yang begitu suci menyentu tanah ibu pertiwi. Disitu perjuangan keadilan secara tulus dan jujur ditegakkan. Entah apa yang menjadi motif sehingga penghadangan tehadap demontran menjadi keras? Yang jelas kita mengutuk tragedi ini. 

Demokrasi mati disaat keangkuhan untuk membungkam suara kritis terjadi, demokrasi dibunuh oleh arogansi kekuasaan disaat 'kebrutalan' menjadi jalan, demokrasi tercendrai jika ruang protes dihentikan dengan represif. Ketunaan dalam melihat subtansi demokrasi orang akan melakukan apasaja yang bertentangan dengan demokrasi. 

Kejadian ini tak boleh terjadi lagi, tak boleh ada randi randi lagi dinegeri ini menjadi korban kebrutalan manusia yang tuna demokrasi. Pihak kepolisian harus menjadi pengaman setiap keadilan yang diperjuangkan di jalanan.

Jika ada perjuangan keadilan dilakukan dijalanan dalam nafas yang satu yakni demokrasi, maka pihak kepolisian wajib memberi pengamanan dan bahkan melindungi para demontran jika ada ancaman. 

Maka terakhir, mari kita teruskan perjuangan randi, menegakan keadilan dalam ruang demokrasi, memastikan menyambung suara lantang dan batin perjuangan randi demi tegaknya keadilan di negeri ini, sekalipun pejuang seorang randi telah tiada namun suaranya mendengung ketelinga pejuang demokrasi.

Indra (Ketua Umum IMM Kerinci Tahun 2011-2012) 
27 September 2019

Randi - Tragedi Demokrasi

Opini - Masa depanku masih "perawan", segala sesuatu masih mungkin terjadi padaku..."(J.P.Sartre, Being and Nothingness) Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pernah menerbitkan penelitiannya tentang perkiraan tingkat bunuh diri. Pada tahun 2018 diperkirakan oleh WHO per 100 ribu orang. Pada tahun 2000 ada 5,9 pria dari 100 ribu pria melakukan bunuh diri. Pada 2010, angkanya turun sedikit menjadi 5,6 Pada 2015, angkanya menjadi turun menjadi 5,3 pada 2016. Kebanyakan usia muda 15 sampai 20 Tahun.

Dalam data WHO Indonesia cukup memprihatinkan tingkat bunuh diri, kebanyakan adalah anak muda. Persoalannya tentu berbeda-beda intinya 'mood' psikologis manusia. Itulah persoalan yang memberi dampak pada mental psikis, terutama dikalangan anak muda yang masih rentan terhadap depresi, depresi sebuah peristiwa mentalitas yang dipengaruhi oleh faktor luar maupun dalam, faktor luar apakah persoalan dan tekanan yang menimpa seseorang, karena ketidakmampuan menghadapi dia akan menjadi depresi.

Anak muda merupakan aset masa depan yang akan mengisi kekosongan peradaban, makanya sartre mengatakan masa depan kita adalah 'perawan', artinya masih suci sekalipun masa lalu ada dosa. Karena pikiran dan jiwa dibelenggu oleh persoalan masalalu, membebani pikiran, yang membuat beban hidup semakin berat. Jika kita lebih 'tenang' menghadapi hidup, pasti kita akan menemukan 'kelegaan', karena tak ada masalah dimasa depan, hanya menjaga 'keperawanan' dalam imajinasi, bukan dia harus hidup dalam imajinasi saja, namun harus di isi dengan kebaikan yang telah Allah perkenankan.

Hanya manusia merasa sendiri dia akan menjadi depresi, padahal Tuhan selalu ada dan dimana saja kita berada, Tuhan selalu bersama kita, hanya saja pusat kesadaran manusia hilang kontak dengan sang Tuhan. Pada dasarnya manusia tak bisa mandiri, dia perlu diluar diri, yang paling utama dan sangat penting adalah merasa selalu bersama Tuhan", sehingga kesadaran hidup menjadi lebih ada.

Dalam kehidupan masalah sering menjadi ancaman kehidupan, dia bukanlah masalah harus meniadakan, tapi justru masalahlah yang membuat manusia hidup, hadapi dan nikmati, karena Allah tidak membebani manusia diluar kemampuannya.

Kita tidak sedang menerka sebab bunuh diri, tapi kita mencoba menjelaskan apa persoalan kehidupan yang membuat hidup di dunia harus di akhiri, jika mati adalah takdir Tuhan maka Tuhan mentakdirkan setiap kematian, maka tak mungkin mati jika Tuhan tak berkenan, jadi semua kematian adalah ketetapan Tuhan, itulah perspektif Teologis. 

Namun Tuhan telah memberi kehendak dan keinginan untuk berbuat, ada yang mencoba bunuh diri, berkeinginan memanjat tiang, namun tak mati, karena keburu diselamatkan masyarakat, itu hanya contoh yang menggambarkan pada mungkin lebih beribu orang yang mencoba bunuh diri tapi gagal. "Gagal' bunuh diri menjadi sebab tidak mati, dan itu ada 'skenario' Tuhan yang tidak mentakdirkan kematian bagi orang, tentu ada juga yang diperkenankan Tuhan.

Dalam hukum eksistensialisme, bahwa kehidupan mencapai 'akibat' karena 'sebab', segala yang "sebab' maka beakibat. Itu hukum rasionalistik dalam perspektif eksistensialisme. Tatkala kita membaca psikologis depresi, kita menemukan gumpalan-gumpalan masalah yang tak terpecah, sehingga membuat reaksi 'mood' terganggu, sehingga 'mengakhiri lebih baik dari pada hidup itu sendiri". 

Agama telah memberi jalan keluar, persoalan hidup tangga menuju 'derajat', semakin mampu kita menempuh persoalan semakin tinggi derajat kita disisi Tuhan, maka jalan menempuh itu dengan 'sabar' dan 'shalat'. Kenapa sabar dan shalat?

Karena sabar merupakan sikap menerima dengan lapang dada sembari berusaha, sedangkan shlat mempertajam rasa Ketuhanan agar tak merasa sendiri, sehingga dgan shalat manusia bisa 'curhat' kepada Pemilik alam semesta. Wallahu'alam.

(Indra : Sekretaris PD PM Kota Sungai Penuh)

Bunuh Diri Bukan Solusi


Dalam data presentasi "Kebencian Masyarakat Indonesia" pada politik ternyata naik. Tahun 2014 lebih kurang 20 % sedangkan Tahun 2019 menjadi 40%, tentu menjadi kajian dalam melihat gejala anti politik bahkan bergeser menjadi anti demokrasi. 

Politik sesungguhnya instrumen dalam menegakan keadilan, mensejahterakan, memberi ruang kebebasan. namun politik telah di dekonstruk menjadi politik kaum mafia, segala mafia ada didunia politik, Mafia hukum, mafia jabatan, mafia kekuasaan kedinastian, mafia pendidikan, mafia seolah keagamaan, mafia segala mafia. 

Partai politik yang menjadi "rahim" untuk melahirkan kepemimpinan politisi negarawanan dan ketulusan. Namun hal itu terkesan "gagal" untuk di adakan, sehingga kerusakan perpolitikan menjadi sistim yang sangat apik terlestarikan, tatkala bangunan politik ini sudah seperti lingkaran setan, maka dalam perspektif psikologis, kebudayaan politik yang dilakukan secara sadar dengan terus menurus akan menjadi hukum itu sendiri, sehingga tak ada keadilan dalamnya, yang ada merasa adil tanpa keadilan itu sendiri. 

Transaksi pikiran sudah jauh dari bangunan demokrasi, kita diendap penyakit oligargi, monarkisme, bahkan politik renteisme. justru yang dijadikan "jual beli" politik adalah keuangan. sehingga kondisi ini membuat masyarakat "depresi" sampai "frustasi" terhadap peran politik dalam mendistribusikan keadilan. dalam hal ini sebagian masyarakat dipaksa "memaklumi" dengan mencoba mencari "Pembenaran" yang di anggap "pemakluman. Namun lebih disyangkan, aktivis ikut mengkampanyekan politik menurut "nafsu" kerakusan dan kerusakan. 

Aktivis seharusnya memiliki daya nalar yang kuat terhadap politik ausltruisme dan meritokraisme, yang terus di perjuangkan dalam alam demokrasi politik hari ini. keadilan ada sebuah puncak sekaligus dasar perjuangan demokrasi itu sendiri. karena itu masyarakat akan mendapat perubahan hidup. Oleh; Indra

Politik dan Visi Keadilan

Jakarta - Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta melaksanakan ujian promosi Doktor ke ke-1166 adalah Norman Ohira seorang Putra Kerinci kelahiran Hiang ini merupakan Dosen Fakuktas Adab, Dakwah dan Ushuluddin Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kerinci.
 
Jauh sebelum itu Norman Ohira pada 2018 silam juga terpilih menjadi salah satu penerima program beasiswa Partnership in Islamic Education Scholarships (PIES) tahun 2018 Studi ke Melbourne, Australia.

Pada Promosi Doktor ke 1166 ini, Norman berhasil mempertahankan disertasi berjudul: "Penguatan Identitas Melayu Muslim dalam Jaringan Perdagangan Abad 16-17" di bawah bimbingan Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA dan Prof. Dr. Iik Arifin Mansurnoor, MA., Rabu, (18/09/2019)

Norman diuji di hadapan dewan penguji yang terdiri dari Prof. Dr. Jamhari, MA, Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA, Prof. Dr. Iik Arifin Mansurnoor, MA, Prof. Dr. M. Atho Mudzhar, MSPD, Prof. Dr. M. Dien Madjid dan Prof. Dr. Oman Fathurahman, M.Hum, Pada ujian tersebut Norman Ohira berhasil meraih Yudisium Cum Laude. (Sumber : UIN Syarif Hidayatullah)




Ujian Promosi Doktor di UIN Syarif Hidayatullah, Norman Ohira Raih Yudisium Cum Laude

Sungai Penuh-18/09/2019, Unit kegiatan mahasiswa teater Bias Fajar Institut Agama Islam Negeri Kerinci. Melaksanakan aksi kegiatan peduli masyarakat dalam melawan kabut asap yang menyelimuti Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci dengan bagi-bagi masker, sebagai Simbol perlawanan dan Simbo Kepedulian.

Dalam aksi kali ini teater bias fajar tidak hanya sendirian, Tapi Juga ditemani para relawan -Relawan yang peduli, Komunitas Fotho Grafer, dan Penggiat seni lainnya.

Ketua umum teater bias fajar membenarkan hal ini "kegiatan ini memang sengaja kami lakukan karna ini sebagian program kami yaitu sosial masayarakat, dan kami peduli terhadap negeri kami yg saat ini dilanda kabut asap, kami membagikan masker mulut kepada masyarakat yg melintas didepan kami, bukan hanya masker saja tetapi kami juga mengajak agar masyarakat saat diluar rumah memakai masker dan juga helem atau kacamata saat diluar rumah" (hengkyternando)

Setelah Sholat Asar semua berkumpul dilapangan merdeka, Para Seniman kader teater bias fajar melukis wajah mereka yang dinamakan face painting, yang menggambarkan keresahan masyarakat. Aksi ini disambut baik oleh masyarakat dan banyak juga masyarakat yang ingin, Bahkan sebagian Maysarakat mengajak para seniman untuk Foo Bareng.

Aksi ini merupakan suatu aksi kerja nyata para seniman muda IAIN kerinci yangg peduli terhadap negerinya dan masyarakatnya sendiri. (pd)

AKSI MELUKIS WAJAH TEATER BIAS FAJAR IAIN KERINCI

Puan, aku terpikat pada juli yang mengikat
Kiranya ruang semoga masih luas menampung ingin yang tak berjeda, Pada tatap yang memikat kau adalah tafsir segala perkara

Puan, bolehkah aku bertanya, sudahkah kau beri pertanda pada rasa ? Agar kita tak lama terbelenggu pada dekap rasa yang abu - abu

Hamparan rawang, 15 september 2019 | friqwal

Berkabung ; AKU

Langganan Berita via Email