Berkemajuan.com--Kasus
tragis terjadi di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Seorang murid kelas IV
Sekolah Dasar berinisial YBS (10 tahun) diduga mengakhiri hidupnya pada 29
Januari 2026 di dekat pondok tempat ia tinggal bersama neneknya. Berdasarkan
laporan kepolisian dan berbagai pemberitaan media, anak tersebut diduga
mengalami keputusasaan setelah permintaannya untuk dibelikan buku tulis dan
pulpen yang nilainya bahkan tidak sampai Rp10.000 tidak dapat dipenuhi oleh
ibunya karena keterbatasan ekonomi keluarga (NU Online, 4 Februari 2026).
Keluarga
korban hidup dalam kondisi kemiskinan. Ibunya adalah seorang janda dengan lima
anak yang bekerja sebagai petani sekaligus buruh serabutan. Untuk membantu
mengurangi beban keluarga, korban tinggal bersama neneknya di sebuah pondok
sederhana. Malam sebelum kejadian, ia pulang menemui ibunya hanya untuk satu
harapan kecil meminta uang membeli perlengkapan sekolah. Namun harapan kecil
itu tidak menemukan jawabannya.
Sebelum
meninggal, ia meninggalkan sepucuk surat yang meminta ibunya tidak menangis,
tidak mencarinya, dan merelakan kepergiannya. Surat itu bukan sekadar pesan
perpisahan, tetapi jeritan sunyi seorang anak yang merasa dirinya menjadi
beban, padahal ia hanya ingin tetap belajar seperti anak-anak lainnya.
Luka
yang Lahir dari Kemiskinan
Hasil
penyelidikan menunjukkan bahwa salah satu pemicu utama kejadian ini adalah
kekecewaan korban karena tidak dibelikan buku tulis dan pulpen. Permintaan yang
sangat sederhana, tetapi bagi keluarga miskin, bahkan kebutuhan kecil pun
kadang menjadi kemewahan.
Dari
sudut pandang psikologis, peristiwa ini memperlihatkan bahwa tekanan ekonomi
tidak hanya melukai orang dewasa, tetapi juga perlahan memengaruhi kesehatan
mental anak. Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Surabaya, Marini,
menjelaskan bahwa anak usia sekitar 10 tahun sudah dapat mengalami tekanan
emosional berat, terutama ketika mereka merasa menjadi beban keluarga. Ungkapan
dalam surat yang menyebut “Mama pelit sekali” menunjukkan adanya rasa
terluka dan perasaan ditolak yang dipahami anak secara sederhana namun sangat
mendalam (Detiknews, 4 Februari 2026).
Tekanan
ekonomi yang berkepanjangan sering membuat orang tua berada dalam kondisi stres
sehingga respons emosional terhadap anak menjadi berkurang. Anak yang belum
memahami kompleksitas persoalan ekonomi kemudian menafsirkan keadaan secara
hitam-putih ia merasa menjadi penyebab kesulitan keluarga. Tanpa ruang dialog
yang hangat dan pendampingan emosional yang memadai, anak dapat mengambil
kesimpulan yang sangat keliru tentang dirinya sendiri dan masa depannya.
Negara
Tidak Boleh Absen
Kasus
ini seharusnya menjadi peringatan keras bahwa pendidikan gratis belum
sepenuhnya berarti pendidikan yang benar-benar dapat diakses oleh semua anak.
Ketika seorang anak kehilangan harapan hanya karena tidak mampu membeli buku
tulis dan pulpen, maka persoalan tersebut bukan lagi semata tragedi keluarga,
tetapi juga cermin dari belum meratanya perlindungan sosial negara.
Pemerintah
memiliki tanggung jawab memastikan bahwa akses pendidikan dasar tidak berhenti
pada biaya sekolah, tetapi juga menjangkau kebutuhan paling mendasar alat
tulis, seragam, dukungan gizi, serta layanan kesehatan mental bagi anak-anak
dari keluarga rentan. Kebijakan sosial yang mengurangi akses bantuan kesehatan
dan perlindungan sosial juga harus dievaluasi secara hati-hati, karena setiap
tekanan ekonomi tambahan yang dirasakan keluarga miskin pada akhirnya akan
paling berat ditanggung oleh anak-anak.
Negara
tidak boleh hanya hadir dalam angka-angka kebijakan, tetapi harus terasa nyata
dalam kehidupan sehari-hari masyarakat miskin di meja belajar anak-anak yang
memiliki buku tulis, di tas sekolah yang berisi harapan, dan di rumah-rumah
sederhana yang tidak lagi dihantui kecemasan tentang kebutuhan dasar
pendidikan.
Peristiwa
ini mengingatkan kita bahwa kemiskinan bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi
juga persoalan harapan yang perlahan dapat hilang ketika kebutuhan paling
sederhana pun tidak terpenuhi. Ketika seorang anak harus menyerah pada hidup
hanya karena tidak mampu membeli buku tulis dan pulpen, maka tragedi tersebut
sesungguhnya adalah alarm keras bagi negara dan masyarakat bahwa masih ada
hak-hak dasar anak yang belum sepenuhnya terjamin.
Karena
itu, perlindungan terhadap anak tidak cukup hanya melalui slogan pendidikan
gratis, tetapi harus diwujudkan dalam kebijakan yang benar-benar memastikan
setiap anak memiliki akses nyata terhadap kebutuhan belajar, kesehatan, dan
pendampingan psikologis yang memadai. Tidak boleh ada lagi masa depan anak yang
terhenti hanya karena kemiskinan, sebab setiap anak berhak tumbuh dengan
harapan yang sama belajar, bermimpi, dan hidup dengan layak.

Posting Komentar