Penulis: Dasri (Kabid Hikmah Politik dan Kebijakan Publik IMM FKIP UM Palopo)
Apapun yang terjadi, perjuangan tertinggi manusia adalah memenangkan akal sehatnya dari kesia-siaan pola pikir yang kerdil dan pola sikap nan jumud. Tidak perlu bakat untuk bekerja keras, sebab semua kemenangan berasal dari berani memulai. Ya, belajar sembari berjalan. Manakala Anda berhenti belajar, Anda berhenti memimpin, dan apabila Anda berhenti memimpin, Anda berhenti menjadi manusia. Agar tetap waras, membaca dan mendiskusikan teks (buku/kitab) harus dijadikan gaya hidup Homo Digital.
Manusia
dewasa saat ini, menjajaki kaki di masa-masa pubertas intelektual, kita jarang
menemukan diri kita sendiri dan seringkali orang lain tampil sebagai sosok yang
penuh dengan rasa angkuh, demagog, ketamakan, rakus, hingga mentalitas
mengetahui segala hal menjadi alasan untuk memandang segala percakapan menjadi
perdebatan. Bukan hanya itu, riuh perdebatan kini tak tahu mana yang
benar-benar tahu dan mana yang sok tahu. Semua berebut takhta vokal di tiap
diskursus. Pada keadaan ini, kita pun sudah sulit membedakan mana sosok guru
dan mana sosok yang menggurui.
Dalam
era AI, kita mengalami keharusan untuk kembali meningkatkan kesadaran diri dan
menyadari bahwa keputusan kita seringkali dipengaruhi oleh sistem yang tidak
kita kendalikan sepenuhnya.Manusia perlu memahami ulang siapa dirinya sendiri.
Keperluan itu, hari-hari ini sangatlah mendesak, sebab teknologi tampaknya
lebih mendominasi alam semesta ini dibandingkan dengan manusia itu sendiri.
Sehingga, tentu, mempertanyakan kembali secara filosofis, terkait “siapa diri
kita?”, “apa itu manusia?”, dan, “apa arti penting menjadi manusia?” menjadi
sangat relevan lagi untuk dipertanyakan di abad dewasa ini.
Majunya
zaman, dan berbagai temuan teknologi canggih di abad mutakhir ini, kita sebagai
manusia memerlukan kontemplasi-kontemplasi filosofis guna memahami kembali diri
(manusia), juga zamanya.Sebab manusia telah
kehilangan diri mereka sendiri dan telah lenyap dimakan oleh teknologi.
Memang, sebenarnya tidak ada yang keliru dari munculnya teknologi mutakhir
paling canggih dalam dunia kontemporer dewasa ini, sejauh dalam kontribusinya
membantu aktivitas manusia agar lebih efisien dan hemat secara waktu, tenaga
maupun biaya.
Kemajuan
ini membuat manusia beralih dari homo sapiens menuju homo digital,yang bukan
sekadar pengguna gawai. Karena sekarang manusia bereksistensi lewat gawai.
Sehingga, eksistensinya ditentukan oleh tindakan digital, yakni: uploading,
chatting, posting, hingga membuat manusia teralienasi dari diri meraka.
Muncul-nya teknologi akan menjadi sangat bermasalah, ketika keberadaannya
justru mengekstrak jiwa manusia sebagai entitas penting yang membangun sosok
manusia itu sendiri dari dalam dirinya. Dari sinilah, sebagai manusia, kita
perlahan mulai kehilangan pengenalan terhadap diri kita sendiri.
Manusia
telah terjebak pada jurang kepalsuan teknologi. Salah satu langkah untuk
terhindar dari wabah digital ialah puasa media sosial, sebuah upaya yang harus
dilakukan para penikmat media sosial untuk memperbaiki dirinya, itu juga
dilakukan agar manusia menjadi manusia seutuhnya tanpa terjatuh dan turun
derajatnya menjadi binatang.Kenapa puasa media sosial diperlukan? sebab manusia
betapapun pengetahuannya mengatakan bahwa, media sosial itu tidak baik jika
dilakukan secara terus menerus namun kesadaran hatinya masih sangat sulit untuk
menjalankannya. Oleh karena itu, diperlukan puasa media sosial untuk mengobati
masalah kemanusiaanya itu agar dia mengenal dirinya sendiri.
Ada sebuah adagium dari Rasulullah Muhammad
yang dikutip oleh Imam al-Ghazali dalam kitabnya Kimiya As-Sa’adah, yakni
‘Siapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengenal Tuhannya.Puasa media
sosial ditujukan untuk manusia agar mengenal dirinya sendiri. Tanpa melakukan
puasa media sosial, mustahil para penikmat media sosial untuk lebih mengenal
dirinya apalagi tuhannya.

Posting Komentar