Dari Kecanduan ke Kesadaran: Menemukan Jalan Keluar dari Rokok

 


Berkemajuan.com--“Merokok mati, tidak merokok pun mati.” Kalimat ini sering terdengar dari para perokok aktif sebagai bentuk pembelaan. Mereka beranggapan bahwa hidup tanpa merokok pun tidak menjamin seseorang berumur panjang.


Namun tidak ada satu pun ahli kesehatan yang mengatakan bahwa rokok baik bagi tubuh. Rokok mengandung lebih dari 7.000 zat kimia, dan sekitar 70 di antaranya bersifat karsinogenik (pemicu kanker). Zat seperti nikotin, tar, dan karbon monoksida sangat berbahaya bagi tubuh dan memicu kerusakan paru-paru, jantung, serta berbagai organ penting lainnya. Tidak mengherankan jika perokok memiliki risiko hingga empat kali lebih tinggi terkena penyakit paru, jantung koroner, stroke, bronkitis kronis, hingga kanker.


Meski demikian, pertanyaan besarnya tetap: mengapa perokok tetap begitu banyak? Rokok ilegal mudah ditemui di warung kecil, masyarakat mengetahui bahayanya, tetapi tetap sulit berhenti karena nikotin sangat adiktif. Pemerintah sudah menaikkan cukai untuk menekan konsumsi, namun kebiasaan ini tetap berlangsung.


Dari sinilah penulis mencoba sebuah eksperimen pribadi. Penulis ingin mengetahui seberapa sulit berhenti merokok ketika seseorang sudah mulai kecanduan. Dimulai dari mencicipi rokok milik teman-teman di tongkrongan, penulis perlahan mencoba berbagai merek hingga menemukan cita rasa yang dianggap sesuai. Dalam dua bulan, penulis mulai merasakan gelisah setiap satu jam tanpa rokok. Saat itulah penulis menyadari bahwa rasa ingin tahu sudah berubah menjadi kecanduan nyata.


Pada masa itu, penulis bahkan sempat lupa tujuan awal hanya untuk “mencoba”. Dengan keuangan terbatas, penulis kadang meminjam uang teman atau saudara hanya untuk membeli sebungkus rokok. Setiap batang memberi sensasi lega sesaat seolah masalah menghilang. Namun di balik itu, tubuh terasa lemah sebelum merokok dan baru kembali “normal” setelah menghisapnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa pikiran dan tubuh telah dikuasai nikotin.


Di sisi lain, penulis juga mengamati bahwa rokok memiliki sisi sosial tertentu. Di tongkrongan, rokok sering menjadi perekat kebersamaan. Ketika tidak ada yang membawa rokok, biasanya semua anggota tongkrongan patungan untuk membeli sebungkus. Rokok seakan menjadi simbol solidaritas.


Dari perspektif negara, industri rokok juga memberikan kontribusi besar melalui cukai tembakau. Namun berbagai penelitian menunjukkan bahwa beban ekonomi akibat rokok jauh lebih besar dibandingkan pendapatan cukainya. Pada 2019, total biaya ekonomi akibat penyakit terkait rokok diperkirakan mencapai Rp184–410 triliun, sedangkan biaya medis langsung mencapai Rp17,9–27,7 triliun dan sebagian besar ditanggung oleh JKN. Selain itu, merokok menyebabkan menurunnya produktivitas, kematian dini, serta menggeser pengeluaran rumah tangga dari kebutuhan penting ke konsumsi rokok. Kerugian ini jauh lebih tinggi dari pendapatan negara yang diperoleh dari cukai.


Setelah mengalami langsung proses kecanduan dan mempelajari dampak kesehatan serta ekonomi yang ditimbulkan oleh rokok, penulis akhirnya menyimpulkan bahwa tidak ada alasan kuat untuk mempertahankan kebiasaan tersebut. Penulis memutuskan berhenti total.


Banyak orang berkata bahwa berhenti merokok sangat sulit, terutama bagi yang sudah kecanduan. Namun penulis justru membuktikan bahwa berhenti bisa dilakukan dengan cara menanamkan doktrin kuat pada diri sendiri bahwa rokok berbahaya dan tidak layak dikonsumsi. Keyakinan ini menjadi fondasi untuk mengendalikan diri.


Beberapa teman merasa heran dan tidak percaya bahwa penulis bisa berhenti secepat itu. Namun bagi penulis, pengetahuan semestinya digunakan untuk mengontrol diri, bukan menjadi justifikasi untuk terus berada dalam kebiasaan yang merusak.


Dari pengalaman pribadi dan data faktual yang ada, jelas bahwa merokok bukan sekadar kebiasaan, melainkan kecanduan yang memengaruhi fisik, mental, dan sosial seseorang. Rokok mungkin memiliki sisi sosial tertentu dan memberikan pemasukan bagi negara, tetapi seluruh manfaat tersebut tidak sebanding dengan kerugian kesehatan dan ekonomi yang ditimbulkannya.


Pengalaman penulis membuktikan bahwa nikotin benar-benar membuat seseorang sulit mengendalikan dirinya. Namun ketika seseorang memiliki kesadaran, pengetahuan, dan tekad kuat, berhenti merokok bukan hal yang mustahil. Karena itu, pencegahan sejak dini dan kesadaran individu sangat penting untuk menjaga kesehatan diri sekaligus mengurangi beban ekonomi negara.





Post a Comment

Lebih baru Lebih lama