Social Items


Randi yang meregang nyawa saat mengikuti aksi demonstrasi di Kendari Sulawesi Tenggara pada 26 September 2019 yang menjadi trending di Twitter, dengan sekejap menjalar informasi keseluruh tanah air, Randi yang juga kader IMM Kendari merupakan bagian tak terpisahkan dari organisasi Persyarikatan Muhammadiyah. 

Melihat tindakan represif oleh (oknum) kepolisian yang mengeluarkan tembakan kepada demonstran adalah tindakan yang brutal dan tuna keadaban demokrasi, manusia macam apa yang tega menghilangkan nyawa seorang mahasiswa. Dengan segenap duka demokrasi, kita prihatin terhadap aparat yang melakukan tindakan brutal. 

Randi adalah sebagian yang menggambarkan keseluruhan penjuru bahwa demokrasi telah gagal dipahami dalam ruang nafas keindonesiaan, randi telah menoreh simbol sejarah perjuangan mahasiswa yang menuntut keadilan ditegakkan, randi menjadi nama yang akan ditulis dalam batu nisan sejarah sebagi tragedi demokrasi. 

Seolah demokrasi mati, karena (oknum) polisi yang tuna demokrasi, padahal demokrasi juga dibangun dijalanan, karena dijalanan autentik keadilan diperjuangkan, dijalanan tapak kaki demonstran dilukiskan, tetesan keringan yang begitu suci menyentu tanah ibu pertiwi. Disitu perjuangan keadilan secara tulus dan jujur ditegakkan. Entah apa yang menjadi motif sehingga penghadangan tehadap demontran menjadi keras? Yang jelas kita mengutuk tragedi ini. 

Demokrasi mati disaat keangkuhan untuk membungkam suara kritis terjadi, demokrasi dibunuh oleh arogansi kekuasaan disaat 'kebrutalan' menjadi jalan, demokrasi tercendrai jika ruang protes dihentikan dengan represif. Ketunaan dalam melihat subtansi demokrasi orang akan melakukan apasaja yang bertentangan dengan demokrasi. 

Kejadian ini tak boleh terjadi lagi, tak boleh ada randi randi lagi dinegeri ini menjadi korban kebrutalan manusia yang tuna demokrasi. Pihak kepolisian harus menjadi pengaman setiap keadilan yang diperjuangkan di jalanan.

Jika ada perjuangan keadilan dilakukan dijalanan dalam nafas yang satu yakni demokrasi, maka pihak kepolisian wajib memberi pengamanan dan bahkan melindungi para demontran jika ada ancaman. 

Maka terakhir, mari kita teruskan perjuangan randi, menegakan keadilan dalam ruang demokrasi, memastikan menyambung suara lantang dan batin perjuangan randi demi tegaknya keadilan di negeri ini, sekalipun pejuang seorang randi telah tiada namun suaranya mendengung ketelinga pejuang demokrasi.

Indra (Ketua Umum IMM Kerinci Tahun 2011-2012) 
27 September 2019

Randi - Tragedi Demokrasi


Randi yang meregang nyawa saat mengikuti aksi demonstrasi di Kendari Sulawesi Tenggara pada 26 September 2019 yang menjadi trending di Twitter, dengan sekejap menjalar informasi keseluruh tanah air, Randi yang juga kader IMM Kendari merupakan bagian tak terpisahkan dari organisasi Persyarikatan Muhammadiyah. 

Melihat tindakan represif oleh (oknum) kepolisian yang mengeluarkan tembakan kepada demonstran adalah tindakan yang brutal dan tuna keadaban demokrasi, manusia macam apa yang tega menghilangkan nyawa seorang mahasiswa. Dengan segenap duka demokrasi, kita prihatin terhadap aparat yang melakukan tindakan brutal. 

Randi adalah sebagian yang menggambarkan keseluruhan penjuru bahwa demokrasi telah gagal dipahami dalam ruang nafas keindonesiaan, randi telah menoreh simbol sejarah perjuangan mahasiswa yang menuntut keadilan ditegakkan, randi menjadi nama yang akan ditulis dalam batu nisan sejarah sebagi tragedi demokrasi. 

Seolah demokrasi mati, karena (oknum) polisi yang tuna demokrasi, padahal demokrasi juga dibangun dijalanan, karena dijalanan autentik keadilan diperjuangkan, dijalanan tapak kaki demonstran dilukiskan, tetesan keringan yang begitu suci menyentu tanah ibu pertiwi. Disitu perjuangan keadilan secara tulus dan jujur ditegakkan. Entah apa yang menjadi motif sehingga penghadangan tehadap demontran menjadi keras? Yang jelas kita mengutuk tragedi ini. 

Demokrasi mati disaat keangkuhan untuk membungkam suara kritis terjadi, demokrasi dibunuh oleh arogansi kekuasaan disaat 'kebrutalan' menjadi jalan, demokrasi tercendrai jika ruang protes dihentikan dengan represif. Ketunaan dalam melihat subtansi demokrasi orang akan melakukan apasaja yang bertentangan dengan demokrasi. 

Kejadian ini tak boleh terjadi lagi, tak boleh ada randi randi lagi dinegeri ini menjadi korban kebrutalan manusia yang tuna demokrasi. Pihak kepolisian harus menjadi pengaman setiap keadilan yang diperjuangkan di jalanan.

Jika ada perjuangan keadilan dilakukan dijalanan dalam nafas yang satu yakni demokrasi, maka pihak kepolisian wajib memberi pengamanan dan bahkan melindungi para demontran jika ada ancaman. 

Maka terakhir, mari kita teruskan perjuangan randi, menegakan keadilan dalam ruang demokrasi, memastikan menyambung suara lantang dan batin perjuangan randi demi tegaknya keadilan di negeri ini, sekalipun pejuang seorang randi telah tiada namun suaranya mendengung ketelinga pejuang demokrasi.

Indra (Ketua Umum IMM Kerinci Tahun 2011-2012) 
27 September 2019

Langganan Berita via Email