Social Items


Dalam data presentasi "Kebencian Masyarakat Indonesia" pada politik ternyata naik. Tahun 2014 lebih kurang 20 % sedangkan Tahun 2019 menjadi 40%, tentu menjadi kajian dalam melihat gejala anti politik bahkan bergeser menjadi anti demokrasi. 

Politik sesungguhnya instrumen dalam menegakan keadilan, mensejahterakan, memberi ruang kebebasan. namun politik telah di dekonstruk menjadi politik kaum mafia, segala mafia ada didunia politik, Mafia hukum, mafia jabatan, mafia kekuasaan kedinastian, mafia pendidikan, mafia seolah keagamaan, mafia segala mafia. 

Partai politik yang menjadi "rahim" untuk melahirkan kepemimpinan politisi negarawanan dan ketulusan. Namun hal itu terkesan "gagal" untuk di adakan, sehingga kerusakan perpolitikan menjadi sistim yang sangat apik terlestarikan, tatkala bangunan politik ini sudah seperti lingkaran setan, maka dalam perspektif psikologis, kebudayaan politik yang dilakukan secara sadar dengan terus menurus akan menjadi hukum itu sendiri, sehingga tak ada keadilan dalamnya, yang ada merasa adil tanpa keadilan itu sendiri. 

Transaksi pikiran sudah jauh dari bangunan demokrasi, kita diendap penyakit oligargi, monarkisme, bahkan politik renteisme. justru yang dijadikan "jual beli" politik adalah keuangan. sehingga kondisi ini membuat masyarakat "depresi" sampai "frustasi" terhadap peran politik dalam mendistribusikan keadilan. dalam hal ini sebagian masyarakat dipaksa "memaklumi" dengan mencoba mencari "Pembenaran" yang di anggap "pemakluman. Namun lebih disyangkan, aktivis ikut mengkampanyekan politik menurut "nafsu" kerakusan dan kerusakan. 

Aktivis seharusnya memiliki daya nalar yang kuat terhadap politik ausltruisme dan meritokraisme, yang terus di perjuangkan dalam alam demokrasi politik hari ini. keadilan ada sebuah puncak sekaligus dasar perjuangan demokrasi itu sendiri. karena itu masyarakat akan mendapat perubahan hidup. Oleh; Indra

Politik dan Visi Keadilan


Dalam data presentasi "Kebencian Masyarakat Indonesia" pada politik ternyata naik. Tahun 2014 lebih kurang 20 % sedangkan Tahun 2019 menjadi 40%, tentu menjadi kajian dalam melihat gejala anti politik bahkan bergeser menjadi anti demokrasi. 

Politik sesungguhnya instrumen dalam menegakan keadilan, mensejahterakan, memberi ruang kebebasan. namun politik telah di dekonstruk menjadi politik kaum mafia, segala mafia ada didunia politik, Mafia hukum, mafia jabatan, mafia kekuasaan kedinastian, mafia pendidikan, mafia seolah keagamaan, mafia segala mafia. 

Partai politik yang menjadi "rahim" untuk melahirkan kepemimpinan politisi negarawanan dan ketulusan. Namun hal itu terkesan "gagal" untuk di adakan, sehingga kerusakan perpolitikan menjadi sistim yang sangat apik terlestarikan, tatkala bangunan politik ini sudah seperti lingkaran setan, maka dalam perspektif psikologis, kebudayaan politik yang dilakukan secara sadar dengan terus menurus akan menjadi hukum itu sendiri, sehingga tak ada keadilan dalamnya, yang ada merasa adil tanpa keadilan itu sendiri. 

Transaksi pikiran sudah jauh dari bangunan demokrasi, kita diendap penyakit oligargi, monarkisme, bahkan politik renteisme. justru yang dijadikan "jual beli" politik adalah keuangan. sehingga kondisi ini membuat masyarakat "depresi" sampai "frustasi" terhadap peran politik dalam mendistribusikan keadilan. dalam hal ini sebagian masyarakat dipaksa "memaklumi" dengan mencoba mencari "Pembenaran" yang di anggap "pemakluman. Namun lebih disyangkan, aktivis ikut mengkampanyekan politik menurut "nafsu" kerakusan dan kerusakan. 

Aktivis seharusnya memiliki daya nalar yang kuat terhadap politik ausltruisme dan meritokraisme, yang terus di perjuangkan dalam alam demokrasi politik hari ini. keadilan ada sebuah puncak sekaligus dasar perjuangan demokrasi itu sendiri. karena itu masyarakat akan mendapat perubahan hidup. Oleh; Indra

Langganan Berita via Email