Social Items

Opini - Masa depanku masih "perawan", segala sesuatu masih mungkin terjadi padaku..."(J.P.Sartre, Being and Nothingness) Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pernah menerbitkan penelitiannya tentang perkiraan tingkat bunuh diri. Pada tahun 2018 diperkirakan oleh WHO per 100 ribu orang. Pada tahun 2000 ada 5,9 pria dari 100 ribu pria melakukan bunuh diri. Pada 2010, angkanya turun sedikit menjadi 5,6 Pada 2015, angkanya menjadi turun menjadi 5,3 pada 2016. Kebanyakan usia muda 15 sampai 20 Tahun.

Dalam data WHO Indonesia cukup memprihatinkan tingkat bunuh diri, kebanyakan adalah anak muda. Persoalannya tentu berbeda-beda intinya 'mood' psikologis manusia. Itulah persoalan yang memberi dampak pada mental psikis, terutama dikalangan anak muda yang masih rentan terhadap depresi, depresi sebuah peristiwa mentalitas yang dipengaruhi oleh faktor luar maupun dalam, faktor luar apakah persoalan dan tekanan yang menimpa seseorang, karena ketidakmampuan menghadapi dia akan menjadi depresi.

Anak muda merupakan aset masa depan yang akan mengisi kekosongan peradaban, makanya sartre mengatakan masa depan kita adalah 'perawan', artinya masih suci sekalipun masa lalu ada dosa. Karena pikiran dan jiwa dibelenggu oleh persoalan masalalu, membebani pikiran, yang membuat beban hidup semakin berat. Jika kita lebih 'tenang' menghadapi hidup, pasti kita akan menemukan 'kelegaan', karena tak ada masalah dimasa depan, hanya menjaga 'keperawanan' dalam imajinasi, bukan dia harus hidup dalam imajinasi saja, namun harus di isi dengan kebaikan yang telah Allah perkenankan.

Hanya manusia merasa sendiri dia akan menjadi depresi, padahal Tuhan selalu ada dan dimana saja kita berada, Tuhan selalu bersama kita, hanya saja pusat kesadaran manusia hilang kontak dengan sang Tuhan. Pada dasarnya manusia tak bisa mandiri, dia perlu diluar diri, yang paling utama dan sangat penting adalah merasa selalu bersama Tuhan", sehingga kesadaran hidup menjadi lebih ada.

Dalam kehidupan masalah sering menjadi ancaman kehidupan, dia bukanlah masalah harus meniadakan, tapi justru masalahlah yang membuat manusia hidup, hadapi dan nikmati, karena Allah tidak membebani manusia diluar kemampuannya.

Kita tidak sedang menerka sebab bunuh diri, tapi kita mencoba menjelaskan apa persoalan kehidupan yang membuat hidup di dunia harus di akhiri, jika mati adalah takdir Tuhan maka Tuhan mentakdirkan setiap kematian, maka tak mungkin mati jika Tuhan tak berkenan, jadi semua kematian adalah ketetapan Tuhan, itulah perspektif Teologis. 

Namun Tuhan telah memberi kehendak dan keinginan untuk berbuat, ada yang mencoba bunuh diri, berkeinginan memanjat tiang, namun tak mati, karena keburu diselamatkan masyarakat, itu hanya contoh yang menggambarkan pada mungkin lebih beribu orang yang mencoba bunuh diri tapi gagal. "Gagal' bunuh diri menjadi sebab tidak mati, dan itu ada 'skenario' Tuhan yang tidak mentakdirkan kematian bagi orang, tentu ada juga yang diperkenankan Tuhan.

Dalam hukum eksistensialisme, bahwa kehidupan mencapai 'akibat' karena 'sebab', segala yang "sebab' maka beakibat. Itu hukum rasionalistik dalam perspektif eksistensialisme. Tatkala kita membaca psikologis depresi, kita menemukan gumpalan-gumpalan masalah yang tak terpecah, sehingga membuat reaksi 'mood' terganggu, sehingga 'mengakhiri lebih baik dari pada hidup itu sendiri". 

Agama telah memberi jalan keluar, persoalan hidup tangga menuju 'derajat', semakin mampu kita menempuh persoalan semakin tinggi derajat kita disisi Tuhan, maka jalan menempuh itu dengan 'sabar' dan 'shalat'. Kenapa sabar dan shalat?

Karena sabar merupakan sikap menerima dengan lapang dada sembari berusaha, sedangkan shlat mempertajam rasa Ketuhanan agar tak merasa sendiri, sehingga dgan shalat manusia bisa 'curhat' kepada Pemilik alam semesta. Wallahu'alam.

(Indra : Sekretaris PD PM Kota Sungai Penuh)

Bunuh Diri Bukan Solusi

Opini - Masa depanku masih "perawan", segala sesuatu masih mungkin terjadi padaku..."(J.P.Sartre, Being and Nothingness) Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pernah menerbitkan penelitiannya tentang perkiraan tingkat bunuh diri. Pada tahun 2018 diperkirakan oleh WHO per 100 ribu orang. Pada tahun 2000 ada 5,9 pria dari 100 ribu pria melakukan bunuh diri. Pada 2010, angkanya turun sedikit menjadi 5,6 Pada 2015, angkanya menjadi turun menjadi 5,3 pada 2016. Kebanyakan usia muda 15 sampai 20 Tahun.

Dalam data WHO Indonesia cukup memprihatinkan tingkat bunuh diri, kebanyakan adalah anak muda. Persoalannya tentu berbeda-beda intinya 'mood' psikologis manusia. Itulah persoalan yang memberi dampak pada mental psikis, terutama dikalangan anak muda yang masih rentan terhadap depresi, depresi sebuah peristiwa mentalitas yang dipengaruhi oleh faktor luar maupun dalam, faktor luar apakah persoalan dan tekanan yang menimpa seseorang, karena ketidakmampuan menghadapi dia akan menjadi depresi.

Anak muda merupakan aset masa depan yang akan mengisi kekosongan peradaban, makanya sartre mengatakan masa depan kita adalah 'perawan', artinya masih suci sekalipun masa lalu ada dosa. Karena pikiran dan jiwa dibelenggu oleh persoalan masalalu, membebani pikiran, yang membuat beban hidup semakin berat. Jika kita lebih 'tenang' menghadapi hidup, pasti kita akan menemukan 'kelegaan', karena tak ada masalah dimasa depan, hanya menjaga 'keperawanan' dalam imajinasi, bukan dia harus hidup dalam imajinasi saja, namun harus di isi dengan kebaikan yang telah Allah perkenankan.

Hanya manusia merasa sendiri dia akan menjadi depresi, padahal Tuhan selalu ada dan dimana saja kita berada, Tuhan selalu bersama kita, hanya saja pusat kesadaran manusia hilang kontak dengan sang Tuhan. Pada dasarnya manusia tak bisa mandiri, dia perlu diluar diri, yang paling utama dan sangat penting adalah merasa selalu bersama Tuhan", sehingga kesadaran hidup menjadi lebih ada.

Dalam kehidupan masalah sering menjadi ancaman kehidupan, dia bukanlah masalah harus meniadakan, tapi justru masalahlah yang membuat manusia hidup, hadapi dan nikmati, karena Allah tidak membebani manusia diluar kemampuannya.

Kita tidak sedang menerka sebab bunuh diri, tapi kita mencoba menjelaskan apa persoalan kehidupan yang membuat hidup di dunia harus di akhiri, jika mati adalah takdir Tuhan maka Tuhan mentakdirkan setiap kematian, maka tak mungkin mati jika Tuhan tak berkenan, jadi semua kematian adalah ketetapan Tuhan, itulah perspektif Teologis. 

Namun Tuhan telah memberi kehendak dan keinginan untuk berbuat, ada yang mencoba bunuh diri, berkeinginan memanjat tiang, namun tak mati, karena keburu diselamatkan masyarakat, itu hanya contoh yang menggambarkan pada mungkin lebih beribu orang yang mencoba bunuh diri tapi gagal. "Gagal' bunuh diri menjadi sebab tidak mati, dan itu ada 'skenario' Tuhan yang tidak mentakdirkan kematian bagi orang, tentu ada juga yang diperkenankan Tuhan.

Dalam hukum eksistensialisme, bahwa kehidupan mencapai 'akibat' karena 'sebab', segala yang "sebab' maka beakibat. Itu hukum rasionalistik dalam perspektif eksistensialisme. Tatkala kita membaca psikologis depresi, kita menemukan gumpalan-gumpalan masalah yang tak terpecah, sehingga membuat reaksi 'mood' terganggu, sehingga 'mengakhiri lebih baik dari pada hidup itu sendiri". 

Agama telah memberi jalan keluar, persoalan hidup tangga menuju 'derajat', semakin mampu kita menempuh persoalan semakin tinggi derajat kita disisi Tuhan, maka jalan menempuh itu dengan 'sabar' dan 'shalat'. Kenapa sabar dan shalat?

Karena sabar merupakan sikap menerima dengan lapang dada sembari berusaha, sedangkan shlat mempertajam rasa Ketuhanan agar tak merasa sendiri, sehingga dgan shalat manusia bisa 'curhat' kepada Pemilik alam semesta. Wallahu'alam.

(Indra : Sekretaris PD PM Kota Sungai Penuh)

Langganan Berita via Email