Halaman

    Social Items


By : Dara

Nda bangun, udah siang. Cewek gak boleh bangun kesiangan, nanti susah cari suami.!"
"Bangun, bangun bangun"
Teriakan itu terdengar beberapa kali.
Dengan kekesalan yang memuncak aku bangun dari tempat tidur. Sambil merapikan sprei dan selimut. aku berbicara dalam hati "siang apaan, ini baru jam 7 pagi. Apa hubungan nya coba bangun siang sama dapat suami" 

Kebayang dong ya ekspresi aku waktu itu gimana.
-Nda- 

Ya, dari kecil aku lebih sering dipanggil Nda, dan dirumah selalu dipanggil begitu. Aku anak bungsu dari 3 bersaudara, kakakku perempuan dua-duanya. Usiaku terpaut jauh dengan kakak kedua ku, beda 10 tahun. Karena usia kami terpaut jauh aku selalu dianggap anak kecil sama kakak. Yang kemana-mana harus diawasi, apa-apa harus diingatkan. Walaupun umurku saat ini sudah menginjak 20 tahun, tetap saja aku anak kecil bagi mereka.

Aku menatap jam di dinding kamar, sudah menunjuk pukul 7:15  Aku mengaktifkan Hp ku yang dari semalam sengaja ku matikan. Selang beberapa menit muncul beberapa notifikasi chat Whatsapp di layar Hp.

Aku buka satu persatu, dan yang pertama kali aku buka aladah chat di grup
"Jadi rihlah gak hari ini?"
"Ngumpul dimana?"
"Jam berapa?"
"Jangan telat"
"Jangan ngaret"
"Maaf gak bisa ikut"
"Kermah gue dulu, bantu izin sama nenek gue"
Slow respon~

Aku letakkan kembali hp di atas meja belajar yang letaknya tidak jauh dari tempat tidurku. Dengan langkah yang sedikit malas aku menelusuri dapur. Ya seperti yang sudah ku duga dan rutinitas setiap harinya, pagi-pagi aku selalu disuguhkan dengan piring-piring kotor yang harus dicuci. Karena sudah menjadi kebiasaan, pekerjaan itu tidaklah menyulitkan. 

"Bukannya hari ini ada kegiatan Nda?"
"Iya, rihlah"
"Jam berapa? Lama gak? Bawa bekal?"
"Jam 9, mungkin lama. Rihlah nya di Danau Lingkat, gak usah bawa bekal mbak, nanti beli diluar aja"
"Oh yaudah, lanjutin cuci piring nya"

Setelah selesai mencuci piring, biasanya daripada menyapu aku lebih memilih bermain dengan anak kakakku yang masih berusia 11 bulan. Dengan segelas kopi diatas meja, aku mulai bercengkrama dengan anak kecil manis dan menggemaskan itu. Ya pada dasarnya aku sangat menyukai anak kecil, terlebih juga sangat menggilai kenikmatan kopi.
Jam sudah menunjuk pukul 8:00

"Mandi gih, katanya ngumpul jam 9" tiba-tiba suara terdengar dari arah dapur
"Iya, tapi ini Qia gimana?"
"Suruh duduk dibawah aja, nanti biar Fauzan yg jaga" Fauzan adalah nama anak pertama dari kakak kedua ku yang aku panggil Mbak.
Sambil berjalan menuju kamar mandi aku melihat kakak ku yang sedang sibuk-sibuknya memasak.
"Masak apa?"
"Makanan kesukaan kamu, tumis kol" jawabnya
"Yeeaahh, baik banget. Masak yg enak ya" Kataku sambil mencium pipinya
"Udah mandi sana, bau" Jawabnya sambil tertawa dan mengusap wajahnya yang sudah ku cium

Setelah selesai mandi, aku mengenakan pakaian yang sudah aku siapkan dari tadi malam. Tiba-tiba Hp-ku berdering dan tampil nama Zela disana

"Hallo Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam, kakak dimana? Sudah siap?"
"Belum, belum pasang jilbab" Jawabku singkat
"Oh, jemput Zela ya kak"
"Oke, tunggu depan rumah ya"
"Iya siap, assalamualikum"

Belum sempat aku jawab salamnya terdengar suara tut tut tut pertanda telepon sudah dimatikan.
"Mbak, pergi dulu ya. Nanti kalo Mama nanya bilang aja aku ke Danau Lingkat, gak bisa izin Mama soalnya telepon nya gak di angkat" Kataku sambil menghabiskan kopi yang masih tersisa sedikit lagi

"Iya, hati-hati ya. Jangan pulang malam, jangan makan mie disana, nanti kambuh lagi" 

"Okeee boskuu"

Waktu sudah menunjuk pukul 9:30, tidak ada satu orangpun di titik kumpul yang sudah direncanakan sebelumnya. Akhirnya aku berinisiatif menelpon salah satu seniorku.

"Bang Yogi, ini kita udah nyampe, kok gak ada orang ya?"
"Oh ngumpulnya gak disana, dirumah Bang Predi, langsung kesana aja" jawabnya dengan suara seperti orang baru bangun tidur
"Oh yaudah, makasih bang

Ditengah-tengah perjalanan, kami bertemu dengan 2 orang senior. Ya, Bang Predi dan Bang Olga.

"Gimana? Jadi rihlah?" Tanya salah satu senior ku yang bernama Predi Daniel Warisman"
"Jadi, katanya disuruh kumpul dirumah abang" jawabku singkat"
"Oh oke, yok kerumah abang" Jawabnya sambil menunjukkan arah rumahnya"

Sesampai disana ternyata masih belum banyak orang. Sambil menunggu teman-teman yang lain, kami berdiskusi, bukan diskusi lebih tepatnya berbagi cerita. Hampir 2 jam menunggu, rasa kesal dan ingin marah pun mulai muncul, karena aku adalah orang yang sangat bosan jika disuruh menunggu dan sangat kesal dengan orang yang tidak tepat waktu. Dengan kesal dan marah yang ditanah, aku masih menampilkan wajah yang terlihat biasa-biasa saja. Tiba-tiba datang seorang wanita yang usia nya sudah tidak terbilang muda tapi wajahnya masih cantik dan bersih, jilbab panjang yang dikenakan nya menambah kecantikan dirinya. Dia adalah ibu dari seniorku, yg biasa aku panggil Abang Predi

"Ini ada kopi, silahkan diminum" Katanya sambil menyuguhkan kopi dan beberapa gelas."

Sontak saja, kemarahan yang aku tahan-tahan sebelumnya menghilang seketika mendengar ada kopi disana. Ya, karena kopi selalu bisa mengembalikan mood-ku yang berantakan.
Sembari menikmati kopi kami masih berbagi cerita. Dan masih menunggu teman-teman yg belum datang. 

Pukul 12:30, akhirnya semua berkumpul. Dan langsung saja kami berangkat menuju Danau Lingkat. Karena belum pernah kesana, aku sangat antusias ingin cepat-cepat sampai. Hampir 2 jam perjalanan, akhirnya kami sampai di Lokasi. 

Masya Allah, Allahuakbar. Sungguh indah ciptaanmu ya Rabb. Danau yang terbentang luas dikelilingi pohon rindang yang membuat air danau terkesan berwarna hijau. 

Langsung saja aku menelusuri danau tersebut berdiri dipinggir Danau. Dengan mata yang tidak berkedip aku memandangi setiap sisi. Dalam hati aku membaca satu ayat dalam surah Ar-Rahman yang artinya "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan" Tanpa disadari keluar cairan dari sudut mata, menangis terharu. Untuk orang yang pertama kali mengunjungi Danau ini, Danau yg menyuguhkan pemandangan yang sangat luar biasa. 

"Hey ngapain disana, foto disini yok" Sontak kalimat tersebut membuat aku terdasar dari lamunanku.
"Oh ya bentar"

Akhirnya kami mengabadikan momen-momen disana dengan Kamera Hp masing-masing. 

"Woy fotoin gue dong"
"Ih kok gendut sih, foto lagi"
"Foto berdua yok"
"Woy woy, sini woy. Foto sini"

Ya, begitulah kalimat yang terdengar selama masa pengambilan gambar berlangsung.
Setelah selesai mengambil gambar akhirnya kami melakukan diskusi, kajian alam  yang kami sebut 'Tadabur Alam' maksudnya berdiskusi dan belajar dialam terbuka. 

Ternyata matahari pada hari itu tidak terlalu menampakkan sinarnya. Yang ada awan hitam pertanda hujan. Ya benar saja, dipertengahan diskusi turunlah gerimis. Tapi kami acuh dan tetap melanjutkan kajian tersebut. Kami berpikir bahwa gerimis itu adalah nikmat Tuhan jadi kami nikmati saja, walaupun ada sebagian yang mengeluh dan meminta untuk berteduh. Karena gerimisnya sudah menjadi hujan akhirnya kami menutup kajian dan berteduh di warung yang ada di dekat Danau. 

Sambil berteduh, lagi-lagi sibuk dengan aktifitas masing-masing. Ada yang memesan makanan, minuman, dan ada juga yang masih mengambil gambar. Ya aku salah satunya. Karena masih terkagum-kagum dengan keindahan Danau. Aku mencintai alam dan menyukai dunia Fotografi. Teman-teman yang duduk dipinggir Danau aku jadikan objek dari gambar yang aku abadikan.
Jam sudah menunjuk pukul 17:00 dan hujan sudah sedikit reda, akhirnya kami memutuskan untuk pulang. 

Walaupun matahari tidak menampakkan sinarnya, ditengah kajian diterpa gerimis, diperjalanan pulang diguyur hujan, dan sampai dirumah sudah larut malam. Itu semua menjadi tidak apa-apa dan tidak seberapa dibandingkan keindahan yang disuguhkan Danau Lingkat.
Ya Rabb, yang maha kuasa lagi maha kaya, terimakasih sudah menciptkan alam yang seindah ini.

Tragedi Sebelum Gerimis ditepi Danau Lingkat


By : Dara

Nda bangun, udah siang. Cewek gak boleh bangun kesiangan, nanti susah cari suami.!"
"Bangun, bangun bangun"
Teriakan itu terdengar beberapa kali.
Dengan kekesalan yang memuncak aku bangun dari tempat tidur. Sambil merapikan sprei dan selimut. aku berbicara dalam hati "siang apaan, ini baru jam 7 pagi. Apa hubungan nya coba bangun siang sama dapat suami" 

Kebayang dong ya ekspresi aku waktu itu gimana.
-Nda- 

Ya, dari kecil aku lebih sering dipanggil Nda, dan dirumah selalu dipanggil begitu. Aku anak bungsu dari 3 bersaudara, kakakku perempuan dua-duanya. Usiaku terpaut jauh dengan kakak kedua ku, beda 10 tahun. Karena usia kami terpaut jauh aku selalu dianggap anak kecil sama kakak. Yang kemana-mana harus diawasi, apa-apa harus diingatkan. Walaupun umurku saat ini sudah menginjak 20 tahun, tetap saja aku anak kecil bagi mereka.

Aku menatap jam di dinding kamar, sudah menunjuk pukul 7:15  Aku mengaktifkan Hp ku yang dari semalam sengaja ku matikan. Selang beberapa menit muncul beberapa notifikasi chat Whatsapp di layar Hp.

Aku buka satu persatu, dan yang pertama kali aku buka aladah chat di grup
"Jadi rihlah gak hari ini?"
"Ngumpul dimana?"
"Jam berapa?"
"Jangan telat"
"Jangan ngaret"
"Maaf gak bisa ikut"
"Kermah gue dulu, bantu izin sama nenek gue"
Slow respon~

Aku letakkan kembali hp di atas meja belajar yang letaknya tidak jauh dari tempat tidurku. Dengan langkah yang sedikit malas aku menelusuri dapur. Ya seperti yang sudah ku duga dan rutinitas setiap harinya, pagi-pagi aku selalu disuguhkan dengan piring-piring kotor yang harus dicuci. Karena sudah menjadi kebiasaan, pekerjaan itu tidaklah menyulitkan. 

"Bukannya hari ini ada kegiatan Nda?"
"Iya, rihlah"
"Jam berapa? Lama gak? Bawa bekal?"
"Jam 9, mungkin lama. Rihlah nya di Danau Lingkat, gak usah bawa bekal mbak, nanti beli diluar aja"
"Oh yaudah, lanjutin cuci piring nya"

Setelah selesai mencuci piring, biasanya daripada menyapu aku lebih memilih bermain dengan anak kakakku yang masih berusia 11 bulan. Dengan segelas kopi diatas meja, aku mulai bercengkrama dengan anak kecil manis dan menggemaskan itu. Ya pada dasarnya aku sangat menyukai anak kecil, terlebih juga sangat menggilai kenikmatan kopi.
Jam sudah menunjuk pukul 8:00

"Mandi gih, katanya ngumpul jam 9" tiba-tiba suara terdengar dari arah dapur
"Iya, tapi ini Qia gimana?"
"Suruh duduk dibawah aja, nanti biar Fauzan yg jaga" Fauzan adalah nama anak pertama dari kakak kedua ku yang aku panggil Mbak.
Sambil berjalan menuju kamar mandi aku melihat kakak ku yang sedang sibuk-sibuknya memasak.
"Masak apa?"
"Makanan kesukaan kamu, tumis kol" jawabnya
"Yeeaahh, baik banget. Masak yg enak ya" Kataku sambil mencium pipinya
"Udah mandi sana, bau" Jawabnya sambil tertawa dan mengusap wajahnya yang sudah ku cium

Setelah selesai mandi, aku mengenakan pakaian yang sudah aku siapkan dari tadi malam. Tiba-tiba Hp-ku berdering dan tampil nama Zela disana

"Hallo Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam, kakak dimana? Sudah siap?"
"Belum, belum pasang jilbab" Jawabku singkat
"Oh, jemput Zela ya kak"
"Oke, tunggu depan rumah ya"
"Iya siap, assalamualikum"

Belum sempat aku jawab salamnya terdengar suara tut tut tut pertanda telepon sudah dimatikan.
"Mbak, pergi dulu ya. Nanti kalo Mama nanya bilang aja aku ke Danau Lingkat, gak bisa izin Mama soalnya telepon nya gak di angkat" Kataku sambil menghabiskan kopi yang masih tersisa sedikit lagi

"Iya, hati-hati ya. Jangan pulang malam, jangan makan mie disana, nanti kambuh lagi" 

"Okeee boskuu"

Waktu sudah menunjuk pukul 9:30, tidak ada satu orangpun di titik kumpul yang sudah direncanakan sebelumnya. Akhirnya aku berinisiatif menelpon salah satu seniorku.

"Bang Yogi, ini kita udah nyampe, kok gak ada orang ya?"
"Oh ngumpulnya gak disana, dirumah Bang Predi, langsung kesana aja" jawabnya dengan suara seperti orang baru bangun tidur
"Oh yaudah, makasih bang

Ditengah-tengah perjalanan, kami bertemu dengan 2 orang senior. Ya, Bang Predi dan Bang Olga.

"Gimana? Jadi rihlah?" Tanya salah satu senior ku yang bernama Predi Daniel Warisman"
"Jadi, katanya disuruh kumpul dirumah abang" jawabku singkat"
"Oh oke, yok kerumah abang" Jawabnya sambil menunjukkan arah rumahnya"

Sesampai disana ternyata masih belum banyak orang. Sambil menunggu teman-teman yang lain, kami berdiskusi, bukan diskusi lebih tepatnya berbagi cerita. Hampir 2 jam menunggu, rasa kesal dan ingin marah pun mulai muncul, karena aku adalah orang yang sangat bosan jika disuruh menunggu dan sangat kesal dengan orang yang tidak tepat waktu. Dengan kesal dan marah yang ditanah, aku masih menampilkan wajah yang terlihat biasa-biasa saja. Tiba-tiba datang seorang wanita yang usia nya sudah tidak terbilang muda tapi wajahnya masih cantik dan bersih, jilbab panjang yang dikenakan nya menambah kecantikan dirinya. Dia adalah ibu dari seniorku, yg biasa aku panggil Abang Predi

"Ini ada kopi, silahkan diminum" Katanya sambil menyuguhkan kopi dan beberapa gelas."

Sontak saja, kemarahan yang aku tahan-tahan sebelumnya menghilang seketika mendengar ada kopi disana. Ya, karena kopi selalu bisa mengembalikan mood-ku yang berantakan.
Sembari menikmati kopi kami masih berbagi cerita. Dan masih menunggu teman-teman yg belum datang. 

Pukul 12:30, akhirnya semua berkumpul. Dan langsung saja kami berangkat menuju Danau Lingkat. Karena belum pernah kesana, aku sangat antusias ingin cepat-cepat sampai. Hampir 2 jam perjalanan, akhirnya kami sampai di Lokasi. 

Masya Allah, Allahuakbar. Sungguh indah ciptaanmu ya Rabb. Danau yang terbentang luas dikelilingi pohon rindang yang membuat air danau terkesan berwarna hijau. 

Langsung saja aku menelusuri danau tersebut berdiri dipinggir Danau. Dengan mata yang tidak berkedip aku memandangi setiap sisi. Dalam hati aku membaca satu ayat dalam surah Ar-Rahman yang artinya "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan" Tanpa disadari keluar cairan dari sudut mata, menangis terharu. Untuk orang yang pertama kali mengunjungi Danau ini, Danau yg menyuguhkan pemandangan yang sangat luar biasa. 

"Hey ngapain disana, foto disini yok" Sontak kalimat tersebut membuat aku terdasar dari lamunanku.
"Oh ya bentar"

Akhirnya kami mengabadikan momen-momen disana dengan Kamera Hp masing-masing. 

"Woy fotoin gue dong"
"Ih kok gendut sih, foto lagi"
"Foto berdua yok"
"Woy woy, sini woy. Foto sini"

Ya, begitulah kalimat yang terdengar selama masa pengambilan gambar berlangsung.
Setelah selesai mengambil gambar akhirnya kami melakukan diskusi, kajian alam  yang kami sebut 'Tadabur Alam' maksudnya berdiskusi dan belajar dialam terbuka. 

Ternyata matahari pada hari itu tidak terlalu menampakkan sinarnya. Yang ada awan hitam pertanda hujan. Ya benar saja, dipertengahan diskusi turunlah gerimis. Tapi kami acuh dan tetap melanjutkan kajian tersebut. Kami berpikir bahwa gerimis itu adalah nikmat Tuhan jadi kami nikmati saja, walaupun ada sebagian yang mengeluh dan meminta untuk berteduh. Karena gerimisnya sudah menjadi hujan akhirnya kami menutup kajian dan berteduh di warung yang ada di dekat Danau. 

Sambil berteduh, lagi-lagi sibuk dengan aktifitas masing-masing. Ada yang memesan makanan, minuman, dan ada juga yang masih mengambil gambar. Ya aku salah satunya. Karena masih terkagum-kagum dengan keindahan Danau. Aku mencintai alam dan menyukai dunia Fotografi. Teman-teman yang duduk dipinggir Danau aku jadikan objek dari gambar yang aku abadikan.
Jam sudah menunjuk pukul 17:00 dan hujan sudah sedikit reda, akhirnya kami memutuskan untuk pulang. 

Walaupun matahari tidak menampakkan sinarnya, ditengah kajian diterpa gerimis, diperjalanan pulang diguyur hujan, dan sampai dirumah sudah larut malam. Itu semua menjadi tidak apa-apa dan tidak seberapa dibandingkan keindahan yang disuguhkan Danau Lingkat.
Ya Rabb, yang maha kuasa lagi maha kaya, terimakasih sudah menciptkan alam yang seindah ini.

Langganan Berita via Email