Social Items


@safir
Jauh mata ku memandang, dibawah pepohonan rimbun yang berjejeran warung Kopi di pinggir Lapangan. Terlihat sesosok pemuda duduk sendiri dengan menungannya. 


Wajah kusam, mata merah tertuju pada segelas Kopi dimejanya. Semakin kupandang dirinya, khayal kupun mulai bercerita, seolah berada di posisinya.


Aku lelah, hidup dibawah tekanan namun cinta yang menggelora membuat ku harus bertahan!..
Dengan sadar ku nyatakan aku tersiksa, dibawah tekanan cinta...
Aku menjerit, aku menangis, aku ingin berlari, lari sejauh yang ku bisa untuk pergi.
Lagi dan lagi, cinta membuat ku terhenti dan memaksa untuk bertahan.

Bertahan dalam sadarnya luka...
Wahai kau sepungguk dara yang berkeras hati,.,
Tak kah kau menghargai cinta yang ku genggam kokoh dalam sanubari.
Sudah hilangkah Kasian mu?... sudah hilang kah rasa mu?...
Hingga kau anggap ku tak ada.

Ouh langit...
Dengarkanlah jeritan ku.
Bawalah aku bersama mu, agar ku tak terinjak di bumi.

Wahai hujan....
Turunlah dengan derasnya...
Tutupi air mata yang mengalir di pipi ku..
Di ulah keras ambisi cinta yang kunjung usai.

Hahaha jauh sekali kahayal ku bercerita tentangnya, seolah aku dirinya. Tanpa ku tau apa yang senbenarnya ia pikirkan. Barulah kusadar ternyata yang ku oandangi itu adalah seorang pejuang yang sedang kelelahan. 

Ia adalah sosok yang rela berkoraban demi orang lain, tanpa mempedulikan kebahagiaannya. Sosok yang telah banyak melahirkan pejuang, melahir tokoh, Namun menyimpan diri dibalik sepi hati yang merindukan syurga tuhan.

Pemuda Dan Segelas Kopi


@safir
Jauh mata ku memandang, dibawah pepohonan rimbun yang berjejeran warung Kopi di pinggir Lapangan. Terlihat sesosok pemuda duduk sendiri dengan menungannya. 


Wajah kusam, mata merah tertuju pada segelas Kopi dimejanya. Semakin kupandang dirinya, khayal kupun mulai bercerita, seolah berada di posisinya.


Aku lelah, hidup dibawah tekanan namun cinta yang menggelora membuat ku harus bertahan!..
Dengan sadar ku nyatakan aku tersiksa, dibawah tekanan cinta...
Aku menjerit, aku menangis, aku ingin berlari, lari sejauh yang ku bisa untuk pergi.
Lagi dan lagi, cinta membuat ku terhenti dan memaksa untuk bertahan.

Bertahan dalam sadarnya luka...
Wahai kau sepungguk dara yang berkeras hati,.,
Tak kah kau menghargai cinta yang ku genggam kokoh dalam sanubari.
Sudah hilangkah Kasian mu?... sudah hilang kah rasa mu?...
Hingga kau anggap ku tak ada.

Ouh langit...
Dengarkanlah jeritan ku.
Bawalah aku bersama mu, agar ku tak terinjak di bumi.

Wahai hujan....
Turunlah dengan derasnya...
Tutupi air mata yang mengalir di pipi ku..
Di ulah keras ambisi cinta yang kunjung usai.

Hahaha jauh sekali kahayal ku bercerita tentangnya, seolah aku dirinya. Tanpa ku tau apa yang senbenarnya ia pikirkan. Barulah kusadar ternyata yang ku oandangi itu adalah seorang pejuang yang sedang kelelahan. 

Ia adalah sosok yang rela berkoraban demi orang lain, tanpa mempedulikan kebahagiaannya. Sosok yang telah banyak melahirkan pejuang, melahir tokoh, Namun menyimpan diri dibalik sepi hati yang merindukan syurga tuhan.

Langganan Berita via Email