Social Items

Konsumtif
Ramadhan bagi umat muslim adalah bulan yang penuh kemuliaan. Menyambut kedatangan bulan suci ramadhan umat muslim mengumandangkan kata Marhaban Ya Ramadhan, mengandung makna yang terambil dari kata Rahb yang berarti luas atau lapang, sehingga marhaban menggambarkan bahwa tamu disambut dan diterima dengan lapang dada dan penuh kegembiraan. 

Pada bulan suci ramadhan terdapat perintah berpuasa sebulan penuh dan hukumnya adalah wajib sebagaimana dengan firman-Nya dalam Surat Al-Baqarah (2): 185 sebagai berikut : beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). 

Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. 

Perintah berpuasa seperti ayat diatas, yang didalam Al-Qur’an ditemukan kata Shiyam atau Shaum pada hakikatnya bagi manusia adalah menahan atau mengendalikan diri. Bagi kaum sufi hakikat dan tujuan puasa mencakup pembatasan seluruh anggota tubuh bahkan hati dan pikiran dari melakukan segala macam dosa (M.Quraish Shihab,1996). 

Puasa yang merupakan salah satu rukun Islam yang kelima, menurut syara’ maka puasa berarti menahan diri dari semua yang membatalkan puasa melalui perut dan kemaluan sejak terbit fajar hingga matahari terbenam dengan niat tertentu (Fiqih Muslimah, 1995). Uraian pengertian puasa disamping bahwa puasa yang menjadi kewajiban sebulan penuh dalam menahan diri dari segala nafsu, seperti menahan tidak makan dan minum dari tebit fajar hingga terbenamnya matahari yang berlangsung selama satu bulan penuh. 

Fenomena bulan ramadhan di saat pola aktivitas tubuh mengalami perubahan yang secara drastis pada kebiasaannya pola makan tiga kali sehari, pada saat bulan ramadhan tiba pola makan menjadi berubah pada waktu berbuka puasa hingga waktu sahur, tentunya mempengaruhi pola konsumsi yang ada. Antusias menyambut bulan suci ramadhan terlihat pada fenomena konsumsi masyarakat, dalam hal ini sepertinya telah menjadi budaya saat bulan puasa yaitu dari sudut pandang ekonomi terjadinya gejolak harga pasar kebutuhan pokok yang melambung tinggi secara drastis. Selanjutnya tingkat daya beli yang tinggi pada bulan puasa pemerintah selalu membangun pasar khusus untuk menampung para pembeli yang melonjak tinggi. 

Fenomena Pola konsumsi yang terjadi di lapangan bisa dilihat dari lingkungan sekitar, selain Pemerintah menyediakan pasar ta’jil, hingga di pinggir jalan masyarakat memanfaatkan bulan puasa menjadi ajang membuka usaha musiman tahunan untuk berjualan ta’jil, dengan tersedianya menu pilihan berbuka puasa yang dikemas dengan tampilan makanan yang menarik, dan menggugah selera, hingga masyarakat sebagai pembeli tergiur membeli berbagai macam menu berbuka yang sebanyak-banyaknya akibat nafsu dari menahan rasa lapar. 

Dengan menu buka puasa yang tidak dikontrol juga mengakibatkan hal yang mubazir. Serta jika porsi buka puasa yang terlalu berlebihan akan berdampak pada kesehatan salah satunya mengantuk usai berbuka dan menimbulkan efek malas dalam beribadah diantaranya malas tarawih, malas tadarus sedangkan momen ramadhan semestinya dimanfaatkan untuk memperbanyak ibadah. Dalam Islam, konsumsi tidak dapat dipisahkan dari peran keimanan. 

Peranan keimanan menjadi tolak ukur penting karena keimanan memberikan cara pandang dunia. Yang cenderung mempengaruhi kepribadian manusia, yaitu dalam bentuk perilaku, gaya hidup, selera, sikap-sikap terhadap sesama manusia. Keimanan sangat mempengaruhi sifat kuantitas, dan kualitas konsumsi baik dalam bentuk kepuasan material maupun spiritual. Inilah yang disebut sebagai upaya meningkatkan keseimbangan antara orientasi duniawi dan ukhrawi. 

Keimanan memberikan saringan moral dalam membelanjakan harta, sekaligus juga memotivasi pemanfaatan pendapatan untuk hal-hal yang efektif. Batasan konsumsi dalam syariah adalah pelarangan israf atau berlebih-lebihan. Perilaku Israf diharamkan sekalipun komoditi yang dibelanjakan adalah halal. Sebagaimana dalam al-Qur’an surat Al-A’raf (7):31 Artinya: Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. 

Arti penting yang dapat dipelajari dari ayat diatas adalah kenyataan bahwa pola konsumsi dalam memenuhi kebutuhan hidup itu harus terpenuhi secara wajar, bila pola konsumsi hidup itu di penuhi dengan cara yang berlebih-lebihan, tentu akan menimbulkan efek buruk diantaranya inefesiensi pemanfaatan pendapatan, egoisme, self interes, dan tunduknya diri terhadap hawa nafsu. Dalam bulan puasa, yang diprioritas tidak hanya konsumsi yang bersifat materi saja, tetapi juga jenis konsumsi sosial yang berbentuk zakat dan sedekah. 

Pengeluaran konsumsi tersebut akan memperkuat sendi-sendi sosial masyarakat, bentuk pengajaran memiliki kepedulian tinggi terhadap saudara-saudara yang miskin. Kontribusi zakat dan sedekah juga dapat membantu secara langsung dalam memenuhi kebutuhan sarana dan pra sarana fisik, seperti bangunan rumah sakit, sekolah, panti asuhan, karena pola konsumsi yang baik mampu memenuhi pos-pos yang menurut standar kebutuhan hidup dan tidak pada standar keinginan dalam hidup. sejenis apapun pola konsumsi lebih tepat bila di ukur untuk kemaslahatan yang mampu memberi keseimbangan duniawi dan ukhrawi.

Weny Lovia Angriani

Fenomena Konsumtif Saat Ramadhan

Konsumtif
Ramadhan bagi umat muslim adalah bulan yang penuh kemuliaan. Menyambut kedatangan bulan suci ramadhan umat muslim mengumandangkan kata Marhaban Ya Ramadhan, mengandung makna yang terambil dari kata Rahb yang berarti luas atau lapang, sehingga marhaban menggambarkan bahwa tamu disambut dan diterima dengan lapang dada dan penuh kegembiraan. 

Pada bulan suci ramadhan terdapat perintah berpuasa sebulan penuh dan hukumnya adalah wajib sebagaimana dengan firman-Nya dalam Surat Al-Baqarah (2): 185 sebagai berikut : beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). 

Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. 

Perintah berpuasa seperti ayat diatas, yang didalam Al-Qur’an ditemukan kata Shiyam atau Shaum pada hakikatnya bagi manusia adalah menahan atau mengendalikan diri. Bagi kaum sufi hakikat dan tujuan puasa mencakup pembatasan seluruh anggota tubuh bahkan hati dan pikiran dari melakukan segala macam dosa (M.Quraish Shihab,1996). 

Puasa yang merupakan salah satu rukun Islam yang kelima, menurut syara’ maka puasa berarti menahan diri dari semua yang membatalkan puasa melalui perut dan kemaluan sejak terbit fajar hingga matahari terbenam dengan niat tertentu (Fiqih Muslimah, 1995). Uraian pengertian puasa disamping bahwa puasa yang menjadi kewajiban sebulan penuh dalam menahan diri dari segala nafsu, seperti menahan tidak makan dan minum dari tebit fajar hingga terbenamnya matahari yang berlangsung selama satu bulan penuh. 

Fenomena bulan ramadhan di saat pola aktivitas tubuh mengalami perubahan yang secara drastis pada kebiasaannya pola makan tiga kali sehari, pada saat bulan ramadhan tiba pola makan menjadi berubah pada waktu berbuka puasa hingga waktu sahur, tentunya mempengaruhi pola konsumsi yang ada. Antusias menyambut bulan suci ramadhan terlihat pada fenomena konsumsi masyarakat, dalam hal ini sepertinya telah menjadi budaya saat bulan puasa yaitu dari sudut pandang ekonomi terjadinya gejolak harga pasar kebutuhan pokok yang melambung tinggi secara drastis. Selanjutnya tingkat daya beli yang tinggi pada bulan puasa pemerintah selalu membangun pasar khusus untuk menampung para pembeli yang melonjak tinggi. 

Fenomena Pola konsumsi yang terjadi di lapangan bisa dilihat dari lingkungan sekitar, selain Pemerintah menyediakan pasar ta’jil, hingga di pinggir jalan masyarakat memanfaatkan bulan puasa menjadi ajang membuka usaha musiman tahunan untuk berjualan ta’jil, dengan tersedianya menu pilihan berbuka puasa yang dikemas dengan tampilan makanan yang menarik, dan menggugah selera, hingga masyarakat sebagai pembeli tergiur membeli berbagai macam menu berbuka yang sebanyak-banyaknya akibat nafsu dari menahan rasa lapar. 

Dengan menu buka puasa yang tidak dikontrol juga mengakibatkan hal yang mubazir. Serta jika porsi buka puasa yang terlalu berlebihan akan berdampak pada kesehatan salah satunya mengantuk usai berbuka dan menimbulkan efek malas dalam beribadah diantaranya malas tarawih, malas tadarus sedangkan momen ramadhan semestinya dimanfaatkan untuk memperbanyak ibadah. Dalam Islam, konsumsi tidak dapat dipisahkan dari peran keimanan. 

Peranan keimanan menjadi tolak ukur penting karena keimanan memberikan cara pandang dunia. Yang cenderung mempengaruhi kepribadian manusia, yaitu dalam bentuk perilaku, gaya hidup, selera, sikap-sikap terhadap sesama manusia. Keimanan sangat mempengaruhi sifat kuantitas, dan kualitas konsumsi baik dalam bentuk kepuasan material maupun spiritual. Inilah yang disebut sebagai upaya meningkatkan keseimbangan antara orientasi duniawi dan ukhrawi. 

Keimanan memberikan saringan moral dalam membelanjakan harta, sekaligus juga memotivasi pemanfaatan pendapatan untuk hal-hal yang efektif. Batasan konsumsi dalam syariah adalah pelarangan israf atau berlebih-lebihan. Perilaku Israf diharamkan sekalipun komoditi yang dibelanjakan adalah halal. Sebagaimana dalam al-Qur’an surat Al-A’raf (7):31 Artinya: Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. 

Arti penting yang dapat dipelajari dari ayat diatas adalah kenyataan bahwa pola konsumsi dalam memenuhi kebutuhan hidup itu harus terpenuhi secara wajar, bila pola konsumsi hidup itu di penuhi dengan cara yang berlebih-lebihan, tentu akan menimbulkan efek buruk diantaranya inefesiensi pemanfaatan pendapatan, egoisme, self interes, dan tunduknya diri terhadap hawa nafsu. Dalam bulan puasa, yang diprioritas tidak hanya konsumsi yang bersifat materi saja, tetapi juga jenis konsumsi sosial yang berbentuk zakat dan sedekah. 

Pengeluaran konsumsi tersebut akan memperkuat sendi-sendi sosial masyarakat, bentuk pengajaran memiliki kepedulian tinggi terhadap saudara-saudara yang miskin. Kontribusi zakat dan sedekah juga dapat membantu secara langsung dalam memenuhi kebutuhan sarana dan pra sarana fisik, seperti bangunan rumah sakit, sekolah, panti asuhan, karena pola konsumsi yang baik mampu memenuhi pos-pos yang menurut standar kebutuhan hidup dan tidak pada standar keinginan dalam hidup. sejenis apapun pola konsumsi lebih tepat bila di ukur untuk kemaslahatan yang mampu memberi keseimbangan duniawi dan ukhrawi.

Weny Lovia Angriani

Langganan Berita via Email